Pasalnya ia lebih memilih mengantri karena takut jika membeli BBM di luar SPBU, mendapat BBM oplosan, apalagi jika membeli di Pertamini yang warna BBM-nya tidak dilihat.
"Karena motorku pernah rusak, ternyata tangki bensinnya berkarat, bensinnya bercampur air," beber Sunarti Adesmi.
Antrian panjang ternyata tidak hanya terjadi di Kota Kendari, namun juga di daerah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, seperti diungkapkan MR (24), jika sudah 3 kali mengantri di SPBU daerah Moroeali, dia mengantri sekitar 2 jam.
"Sudah beberapa kali selalu mengantri begini, mungkin karena di area IMIP itu hanya 2 SPBU, di Bahodopi sama Labota, tidak sebanding dengan banyaknya karyawan yang butuh BBM," ujar MR via WhatsApp.
Dia tidak membeli pada pedagang eceran karena harga yang dijual 2 kali lebih mahal, yakni Rp 20 ribu per liternya.
