Kegagalan fungsi normatif partai akhirnya menumbuhkan pola pikir dan perilaku pragmatis di antara elite dan kader pengurus partai. Mereka aktif di partai dengan tujuan berkarir di parlemen dan pemerintahan, serta dalam pemahaman bersama meletakkan partai sebagai kendaraan untuk meraih akses ke sumber daya ekonomi.

Sehingga, akhirnya terjadi rivalitas politik yang tujuannya untuk bertahan atau merebut kepemimpinan di dalam partai. Para elite partai yang mayoritas bersikap-berfikir pragmatis, menjadikan partai sebagai alat meniti karir, alat “cari makan dan jabatan”.

Maka, jangan heran jika masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan partai politik yang pada akhirnya jika kondisi partai tetap seperti ini akan menyebabkan kematian bagi partai politik di Indonesia, karena tidak ada lagi yang mau berkader di partai, dan tidak berfungsinya pemerintah sebagai pembina partai politik. (*)