Selain itu, investigasi ini juga didasarkan pada kesaksian warga Palestina, data, dan dokumentasi dari Jalur Gaza, bersama dengan pernyataan resmi juru bicara pasukan bersenjata Israel (IDF) dan lembaga negara Israel lainnya.

"Operasi Pedang Besi" dimulai setelah serangan mengejutkan Hamas di selatan Israel pada 7 Oktober. Israel kemudian membalas dengan membabi buta, menghancurkan apapun yang tidak ada kaitannya dengan target militer seperti rumah-rumah pribadi, fasilitas publik, infrastruktur, dan gedung yang disebut sebagai target kekuatan (matarot otzem). Kampanye militer ini merupakan kampanye paling mematikan terhadap Palestina sejak Nakba pada tahun 1948.

Menurut sumber intelijen yang memiliki pengalaman langsung dengan Gaza pada masa lalu, target kekuatan ini utamanya ditujukan untuk merugikan masyarakat sipil Palestina, untuk menciptakan kejutan dan mendorong warga sipil untuk memberikan tekanan pada Hamas.

Baca Juga: Update Palestina, dari Korban Tewas hingga Pembebasan Tahanan

Beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya membenarkan bahwa tentara Israel memiliki berkas tentang sebagian besar target potensial di Gaza, termasuk rumah warga dan menentukan jumlah warga sipil yang kemungkinan akan tewas dalam serangan terhadap target tertentu. Jumlah ini dihitung dan diketahui sebelumnya oleh unit intelijen militer, termasuk berapa banyak warga sipil yang dipastikan akan terbunuh dalam setiap target.