Sebab, begitulah cara Amerika menghidupi negara dan rakyatnya. Kampiun demokrasi ini harus tetap berada pada khitoh (strategi dasar) negaranya, jika tidak mau dilibas habis oleh negara super power lainnya, yang diprediksi adalah negara Islam.
Perbedaannya, Partai Republik yang digawangi Donald Trump membantai negeri-negeri Muslim tanpa sembunyikan pisaunya. Mereka lebih sering bertindak kasar dan jelas. Sementara Partai Demokrat sembunyikan pisaunya dari korbannya. Nampak halus padahal masih sama saja menjadi musuh dari Islam. Maka, adakah alasan kita untuk bergembira?
Terhadap arah pertumbuhan ekonomi Indonesiapun sebagaimana digadang presiden Joko Widodo, bahwa dirinya "menantikan untuk bekerja sama" dengan Biden dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS serta mendorong kerja sama kita di bidang "ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk kepentingan kedua negara." Bisa dipastikan tak akan mengalami perubahan yang signifikan.
Jelas tak mungkin Amerika sekedar akan mempererat kemitraan dengan Indonesia begitu saja, sebagai negara penganut kapitalisme, arahan kerjasama itu lebih kepada mengikat negara-negara berkembang dan juga negara pembebek agar terus bersandar kepada Amerika.
Cepat atau lambat sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor non-riil pasti akan tumbang. "Biden Effect" hanyalah lonjakan sesaat yang tak berarti apapun. bahkan tak menyentuh panel tingkat kesejahteraan satu angkapun. Ini bukti kapitalisme gagal menyelesaikan problem ekonomi. Gagal mewujudkan kesejahteraan manusia dan menghasilkan ketimpangan serta kemiskinan sistemik.
