Sebanyak 1.203.309 siswa dari berbagai daerah menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan sampling sistematik agar representatif terhadap kondisi nasional. Hasilnya menunjukkan sekolah penerima MBG mencatat rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar sebesar 2,37 poin persentase dibandingkan sekolah yang belum menerima program.
Baca Juga: MBG Tetap Disalurkan Bulan Puasa, Begini 4 Skema dari BGN
Perbedaan capaian juga terlihat di wilayah Indonesia Timur. Sekolah pelaksana MBG di kawasan tersebut mencatat penurunan gangguan belajar akibat lapar hingga 14,85 poin persentase lebih besar.
Angka ini menunjukkan adanya selisih kondisi yang cukup lebar antara sekolah yang memperoleh intervensi gizi dan yang belum mendapatkannya.
Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, mengatakan pemilihan sekolah dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan kesetaraan karakteristik awal.
