“Sekolah pelaksana MBG kami pilih secara acak, dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai. Setelah itu, kami padankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama sehingga kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan,” katanya dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari Kompas, Jumat (20/2/2026).

“Pendekatan ini memperkuat validitas hasil sekaligus memastikan setiap rekomendasi kebijakan benar-benar berbasis data," tambahnya.

Menurutnya, metode tersebut membantu memastikan bahwa perubahan yang terjadi berkaitan langsung dengan pelaksanaan program, bukan faktor lain di luar intervensi.

Rusprita juga menyebut intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar siswa, tetapi turut memperkuat kesiapan mengikuti pembelajaran.

“Memastikan mereka bisa belajar dengan fokus dan kesempatan yang sama dengan anak-anak di wilayah lainnya,” ujarnya.