Sayangnya semakin ke sini, bom bunuh diri juga melibatkan paradoks dalam Islam. Di satu sisi, Islam mengharamkan bunuh diri. Terlebih lagi, hukum jihad dengan jelas menyatakan bahwa pejuang tidak boleh menghabisi nyawa orang yang tak bersenjata ataupun tidak melakukan perlawanan.

Di sisi lain, mereka yang kurang pemahaman soal agama meskipun berpendidikan tinggi, buta huruf, dan terbelakang sangat rentan terhadap doktrin mentah yang disebut kalangan psikolog sebagai "true believerism" atau keyakinan sejati. Ini mirip cuci otak yang membuat individu di dalam suatu kelompok membenarkan suatu hal tanpa bisa diganggu gugat.

Mereka membenarkan bahwa siapa saja yang mati saat berperang melawan non-Muslim akan dianggap sebagai martir dan layak mendapat surga. Mereka pun diikat dengan pemahaman bahwa muslim mencintai kematian, sedangkan yang lainnya adalah musuh penyembah kehidupan.

Baca juga: Ditahan KPK, Mantan Dirut PT Pelindo Justru Bahagia

Dalam ranah yang lebih luas, doktrin tadi bukan cuma mendorong orang melakukan bom bunuh diri, tapi juga menjadikan para pelaku pengeboman sebagai "boneka" agar suatu kelompok militan yang lebih kecil meningkat statusnya, diakui keberadaannya, juga didukung sistem politiknya.