Atas dasar itu, sejumlah kajian awal terkait bom bunuh diri menyimpulkan  bahwa perilaku tersebut murni didorong oleh ideologi Islam radikal.

Satu studi misalnya, menekankan bahwa para pelaku stabil secara psikologis dan bersedia mengorbankan nyawanya karena alasan altruis. Layaknya pahlawan di medan perang yang rela mati demi membela martabat negara.

Akan tetapi asumsi itu kemudian diragukan seiring perkembangan temuan ilmiah.

Peneliti dari Universitas Tel Aviv di Israel menemukan bahwa pelaku pada umumnya cenderung terintimidasi, mudah dikendalikan, dan depresif. Mereka juga tidak mutlak menjadikan agama sebagai motivasi utama pengeboman.

Dr. Eyad Sarraj, psikiater Muslim di Palestina mengatakan, pengebom bunuh diri biasanya orang-orang yang sangat penakut, introver, sulit berkomunikasi, dan sama sekali tidak melakukan kekerasan.