Dengan melakukan aksi ekstrem, kata dia, mereka seolah bisa mengatasi kekurangannya tadi lewat keberanian besar menghadapi kematian. Mereka juga merasa bagaikan idola, ikon, bahkan pahlawan karena telah melakukan hal yang dianggapnya paling mulia. Baik itu di mata Tuhan maupun sejawatnya.
Tak hanya itu, aksi bom bunuh diri juga kerap dipicu kemiskinan dan keinginan balas dendam. Pun dilakukan perempuan.
Baca juga: Mistik: 4 Suara Binatang Ini Pertanda Datangnya Hantu, Ada di Rumahmu?
Laporan 2018 oleh Universitas Tel Aviv mengungkap, sepanjang 2017 jumlah pengebom bunuh diri di seluruh dunia yang terverifikasi mengalami penurunan ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, pengebom perempuan meningkat signifikan.
Dr. Nancy Kobrin dari American Center for Democracy, seorang psikoanalis yang juga ahli kontraterorisme menyebutkan, perempuan banyak dilibatkan karena dampak teror dan kekerasan yang ditimbulkannya bisa jauh lebih besar ketimbang laki-laki.
