Pelaku biasanya dipaksa, tapi sebagian besar juga datang secara sukarela. Menurutnya ada banyak faktor yang memotivasi perempuan, misalnya kehidupan yang menyedihkan, dilecehkan laki-laki, hingga balas dendam atas suatu penderitaan.
Satu studi pun menemukan aksi pelaku pengebom perempuan biasanya disebabkan permasalahan psikologis seperti stres pasca-trauma, keputusasaan, dan hilang harapan.
Selain motif-motif di atas, peneliti dari Universitas Oxford yang dipimpin oleh Profesor Harvey Whitehouse juga telah menyingkap adanya proses psikologis unik yang disebut "identity fusion" atau peleburan jati diri.
Proses ini diyakini sebagai dorongan utama yang membuat orang bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri. Bahkan, mampu mendorong seseorang rela mengorbankan nyawanya jauh lebih kuat dari sekadar mengidentifikasi diri berada dalam suatu kelompok.
Proses peleburan jati diri merupakan rasa mendalam yang menyatu dalam suatu kelompok karena ditempa oleh satu asa satu rasa. Mereka membentuk hubungan persaudaraan psikologis layaknya kerabat biologis dari kesamaan lingkungan dan pengalaman sehingga muncul keinginan saling membela dan melindungi.
