Awalnya, ia hanya mengenal dunia prostitusi melalui obrolan teman. Kembang sempat menolak tawaran untuk menjual diri, tapi kebutuhan hidup dan tekanan ekonomi membuat pikirannya berubah. Ia mulai dari hal ringan, seperti melakukan panggilan video dengan pria tak dikenal.

“Orang tua di kampung kasihan, kehidupannya juga pas-pasan, tidak sampai kepikiran untuk kuliahkan saya,” kata Kembang kepada telisik.id, Jumat (3/10/2025) malam di salah satu kawasan perbatasan Kota Kendari.

Ia berbicara pelan, sesekali memalingkan wajah, seperti tidak ingin mengingat masa-masa itu. Kembang bercerita, dari sekadar VCS (video call sex) ia akhirnya mulai menerima ajakan bertemu.

Ia menetapkan tarif Rp 900 ribu untuk layanan singkat atau short time dengan durasi maksimal satu jam.

“Tidak berani long time. Hanya short time saja. Itu pun di hotel tertentu. Saya jaga keamanan diri,” ucapnya.