Namun, usahanya tersebut tidak berjalan mulus. Ia memulai bisnisnya sekitar pertengahan tahun 2023 dengan meminjam uang sebesar Rp 15 juta dari koperasi.
Saat ditemui dikediamannya di salah satu indekost di Kendari, dengan melewati gang sempit dan penerangan seadanya, Titi menuturkan bahwa modal yang ia pinjam uang digunakan untuk membeli stok produk dan biaya operasional. Sayangnya, penjualan tidak sesuai harapan dan ia mengalami kerugian besar.
"Saya sudah usaha keras, tapi tidak ada gunanya susah sekali dapat uang cepat," kata Titi dengan nada pelan.
Kondisi tersebut memaksa Titi mencari cara lain untuk membayar utang. Ia mengaku tidak punya pilihan lain. Setiap hari rentenir menagih dengan kasar. Terdesak, Titi menghubungi temannya yang memiliki koneksi dengan dunia prostitusi.
"Putus asa mi kak, tidak ada pilihan lain selain jadi lo***," katanya dengan mata sayup.
