Dari cerita Yaya, membalik anggapan umum bahwa semakin besar ukuran penis maka semakin nikmat pula bercinta. Baginya, justru sebaliknya.

Setiap kali digempur dengan “rudal jumbo” atau penis sang pacar, tubuhnya tak sanggup menerima. Rasa nyeri begitu menyiksa hingga organ intimnya mengalami lecet.

Menurut Yaya, pengalaman tersebut menjadi titik balik pemikirannya tentang seks. Yang seharusnya menjadi ruang berbagi kasih sayang, justru berubah menjadi neraka pribadi.

“Maunya enak, bikin senang. Tapi kalau sakit terus, tidak ada bahagianya,” ucapnya lirih.

Ia bahkan tak kuasa melanjutkan hubungan tersebut. Keputusan berpisah dengan lelaki itu pun akhirnya diambil meski harus menanggung beban perasaan sendiri.