Pada malam itu, sekitar pukul 22.00 Wita, suasana sederhana di rumah kontrakan Yaya berubah menjadi ruang pengakuan. Di antara cangkir kopi yang mulai dingin dan percakapan lirih, ia menumpahkan isi hati.
Ekspresi wajahnya berubah-ubah, kadang menahan tawa getir, kadang menampakkan perih yang sulit disembunyikan. Baginya, membagi cerita bukan sekadar keluhan, tetapi sebuah bentuk kelegaan.
“Trauma mi, tidak mau lagi coba yang begitu. Cukup, biarlah jadi pengalaman,” katanya dengan nada mantap. (A)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
