Awalnya, semuanya terasa biasa. Mereka hanya berteman, saling bercanda, dan sesekali berbagi kisah ringan. Namun perlahan, kedekatan antara Toel dan Meya mulai terasa berbeda.
“Dia sering chat saya malam-malam, cuma nanya hal-hal kecil. Tapi lama-lama terasa lebih personal,” kata Toel.
Dari sekadar basa-basi, percakapan mereka menjelma menjadi tempat curhat dua orang yang sama-sama merasa kurang diperhatikan oleh pasangannya.
Suasana coffee shop tempat mereka biasa berkumpul menjadi saksi dari interaksi yang makin intens. Lampu remang, denting gelas kopi, dan tawa dari meja lain seakan menutup ruang pribadi mereka berdua.
“Kami sering bicara lama di pojokan, sampai lupa waktu,” ucap Toel.
