Saat ditemui Telisik.id sekira pukul 22.55 Wita di salah satu kos-kosan, ia membeberkan, dibandingkan dengan PSK di lokalisasi, keberadaan ayam kampus memang lebih sulit dilacak. Saat diperhatikan, penampilan dan keseharian mereka di kampus terlihat sama dengan mahasiswi-mahasiswi lainnya.

"Saya ekslusif, tidak terang-terangan, tidak sama seperti wanita lain. Kita ini ada orang tua, keluarga juga pacar," kata wanita dengan senyum manis ini.

Lanjut mahasiswi semester 5 ini mengatakan, untuk menarik pelanggan, media sosial menjadi tumpuan utama. Tak jarang tawaran itu juga datang dari mulut ke mulut.

"Kita pilih-pilih juga pelanggan karena bukan seperti michat. Palingan kita hanya pasang saja foto cantik atau seksi di medsos kalau sudah ada yang tanya bisa dipakai, kita jawab bisa. Setelah itu bahas tempat dan tarifmi," singkat Tasya.  

Kesan eksklusif yang ditawarkan oleh penjaja cinta ayam kampus, membuat mereka tak mau sembarangan memilih tempat untuk berkencan.