Baca Juga: Mualaf Lokal: Resmi Mualaf, Warga Baruga Kendari Ini Rasakan Ketenangan Hati
Saat ditemui, ia mengenakan daster coklat dan duduk bersandar di dinding kamar yang sempit. Pintu dibiarkan setengah terbuka agar udara masuk. Ia tampak tenang, meski beberapa kali berhenti sebelum menjawab pertanyaan.
Sebelum tinggal di Kendari, Vana mengaku pernah menetap di salah satu wilayah tambang di Sulawesi Tenggara. Kala itu, kawasan tersebut ramai oleh pekerja proyek dan karyawan perusahaan.
Warung makan buka hingga malam, kos-kosan penuh, dan aktivitas ekonomi bergerak cepat. Namun kondisi itu berubah sejak 2020 hingga 2021. Aktivitas tambang berkurang, banyak pekerja pulang, dan lingkungan mendadak sepi.
“Dulu di sana ramai sekali, warung selalu hidup. Setelah tambang kurang, orang-orang pergi semua. Saya ikut susah cari uang,” ucapnya pelan.
