Tidak dapat disangkal, keputusannya untuk menjual diri merupakan jalan pintas yang tidak seharusnya dipilih oleh siapa pun. Namun, dalam keadaan yang tidak terduga dan terdesak, Fana merasa tak ada jalan lain untuk melunasi utangnya yang menumpuk dengan cepat.

Dua bangunan bertingkat yang mengapit indekos Fana terlihat seperti penjara yang menahannya dalam lingkaran putus asa. Gang sempit tempat indekos berada memberikan kesan tertutup, seakan-akan mencerminkan kegelapan dalam hidupnya.

Ketika ditanya tentang harapannya ke depan, Fana menundukkan kepala dan sesaat terdiam. Namun, ia kemudian mengangkat wajahnya dengan keteguhan yang baru.

"Saya harap ada jalan keluar dari situasi ini, saya ingin utangku cepat lunas itu saja," ucapnya. (A)

Penulis: Ahmad Jaelani