Dalam iklim dan paradigma yang telah menjadi sistem nilai seperti itu, kepedulian yang didasarkan atas kebersamaan, terasa sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Apalagi, menurut Bank Dunia, dilihat dari GNI perkapita, Indonesia masih tergolong menengah bawah. Ini dapat dimaknai masih perlu dukungan semua pihak, terutama kemandirian masyarakat. Dampaknya, terdongkraknya  kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Bagi bangsa Indonesia yang baru saja melalui usia 77 tahun ini, hal tersebut tentu bagus sebagai sebuah koreksi untuk dapat lebih maju. Tentu, maju dengan tanpa kehilangan identitas gotong-royong karena ditenggelamkan oleh liberalisme si pencipta iklim amat kapitalistik.

Sampai di situ, sebagai sebuah kepedulian konkret yang implementatif, rasanya rumah-rumah ibadah layak dipertimbangkan menjadi pusat pengumpulan energi bagi kegiatan kajian dan pemikiran kemajuan ekonomi warga. Aktivitasnya, dijamin oleh masyarakat sendiri dan dilakukan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Bila hal tersebut berhasil diwujudkan, derma dan kekuatan masyarakat yang terkumpul menyatu pada rumah-rumah ibadah, selain digunakan untuk untuk mematut-matut rumah ibadah, juga dapat digunakan untuk mencipta lapangan kerja atau aktivitas  produktif bagi masyarakat sendiri.

Amat sayang bila potensi kuat rumah ibadah di daerah-daerah di Tanah Air, tidak segera diorganisasi dengan baik secara manajerial. Sebagai contoh, rumah-rumah ibadah yang dikelola oleh kalangan Polri dan TNI, telah lama menggerakkan aktivitas sosial sepekan sekali di setiap Jumat.