Yahudi bangsa yang berasal dari Israel (KBBI, 2002: 1277). Sementara  yang dimaksudkan dengan Israel adalah negara di Asia Barat. Letak posisi Israel dikelilingi oleh Laut Tengah, Semenanjung Sinai dan sejumlah negara, yakni Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Mesir.

Sejumlah literatur Islam, menyebut Yahudi sebagai salah satu “musuh besar utama”, lantaran sifat dan perilakunya yang khas. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang kerap dicap “mau untung sendiri” dengan menyingkirkan rasa kemanusiaan. Sudah dari sono-nya begitu. Untuk yang semacam itu, tak sedikit orang mencemooh, “Yahudi kamu!”.

Terhadap sesama yang tengah “sekarat”, orang yang semacam itu masih sempat curi-curi petik untung. Dalam bentuk lain, misalnya, di masa COVID-19 sedang tinggi-tingginya melanda Indonesia, saat orang akan bepergian ke luar daerah, dia malah jual surat keterangan dengan harga jutaan rupiah. Ada pula yang tega ambil untung dari perawatan korban bencana alam atau mengkorupsi anggaran pengadaan bantuan sosial (bansos).

Di Indonesia, yang semacam itu populer dicap “ambil kesempatan dalam kesempitan”. Tambahannya, selain kikir, baru mau memberi jika ada peluang petik untung besar. Seloroh anak-anak muda dalam pergaulan sehar-hari, “Dia itu sih baru mau bantu, kalau ada untungnya.”      

Dari ceramah-ceramah, penulis tahu kisah Nabi Besar Muhammad Rasulullah Saw memperlakukan seorang pengemis Yahudi tua dan buta. Si Yahudi tua selalu menghina dan memburuk-burukan Kanjeng Nabi. Bahkan cercaan ia lontarkan ketika hampir setiap hari Rasul sengaja mendatangi untuk memberinya makan dengan langsung menyuapi. Si pengemis sendiri tak tahu, bahwa yang tengah melayaninya dengan sangat memanusiakan manusia itu, adalah Muhammad yang terus menerus ia cerca.