Baca Juga: Ferdy Sambo dan Keharusan Reformasi Kepolisian

Suatu hari Umar bin Chatab yang datang menyuapinya. Meski buta, si pengemis tahu, kali ini yang meyuapinya bukan orang yang biasanya. Dari sentuhan fisik, ia ketahui itu. Lantas, ia bertanya, kemana orang yang kemarin-kemarin berbaik hati sengaja datang memberinya makan dan menyuapinya? Umar menjawab berterus terang, “Orang itu adalah Nabi Muhammad Saw. Umar mengaku datang menggantikan, lantaran Nabi Muhammad telah meninggal dunia.”

Kisah Kanjeng Nabi dengan pengemis Yahudi buta tersebut, terasa sangat kontroversial. Namun, juga satu sikap yang sangat memanusiakan. Cerita-cerita fakta serupa, pasti ada pula dalam kisah-kisah moral atau sejarah dalam agama-agama lain, yang penulis terbatas membacanya.

Sebut saja, kisah-kisah moral dan kepedulian dalam agama Nasrani, Hindu, Buda, atau Konghucu. Bahkan, dalam kemanusiaan. Presiden ke-4 RI yang amat akrab disapa Gus Dur, dalam kalimatnya yang sangat populer saya  maknai bahwa: “Kemanusiaan di atas segala-segalanya.”  

Sekitar 30 tahun silam, penulis bertandang ke rumah seorang tokoh organisasi Islam di Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Saat duduk-duduk di beranda rumahnya, datang seorang laki-laki peminta-minta. Masih muda, fisiknya kokoh, tampak luar sehat-sehat saja. Secara fisik, total mengesankan bahwa si pengemis sehat dan masih kuat. Saya tak memberinya apa-apa, kecuali bangkit dan setengah menghardik, “Kamu masih muda, sehat dan kuat lagi. Bekerjalah, jangan mengemis.”