Tak berapa lama, dari dalam rumah muncul tuan rumah. Lantas. laki-laki lewat paruh baya itu, malah memanggil si peminta-minta dan memberinya sejumlah uang receh. Kemudian, si pemuda pengemis pergi seraya mengucapkan terima kasih.
Sepeninggal si pengemis, laki-laki tuan rumah itu dengan arif berkata, “Kita tidak boleh memarahi orang seperti itu. Benar, dia masih sehat dan kuat fisiknya, tapi justru mungkin mentalnya yang perlu disadarkan. Itulah kemiskinan dia. Banyak cara menyadarkan seseorang, tapi tidak dengan memusuhi.”
Empat belas tahun lalu, Laki-laki sederhana dan bijak berusia 78 tahun (ketika itu) pensiunan BUMN itu, wafat di rumah anak laki-lakinya di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Ia dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Istrinya, seorang pensiunan guru, berpulang tiga tahun kemudian dan dimakamkan berdekatan dengan kuburnya.
Jauh-jauh sebelumnya, sekitar 55 tahun silam, penulis yang baru berusia sembilan tahun, mengetahui ada seorang “pejabat kecil” BUMN tranportasi yang hidup sederhana di rumah dinasnya, juga di Prabumulih. Kota ini kini merupakan salah satu kota di Provinsi Sumsel (di masa lalu masuk dalam Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah/LIOT).
Kepedulian laki-laki itu juga sangat tinggi, terutama pada anak-anak terlantar. Istrinya demikian pula. Ia bukan dari kalangan agamawan atau tokoh organisasi keagamaan. Letak rumah dinasnya tak jauh dari stasiun kereta api (KA). Waktu itu KA dikelola oleh Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) setelah perubahan dari Djawatan Kereta Api (DKA). Kini DKA atau PNKA sudah bermetamorfosa menjadi PT. Kereta Api Indonesia (KAI).
