Ia punya anak enam orang. Tetapi, hampir setiap tiga bulan sekali di rumahnya selalu ada dua atau tiga anak usia belasan tahun yang bukan anak atau anggota keluarga mereka. Selalu berganti-ganti. Ini diketahui dari wajah mereka yang selalu lain dari yang tiga bulan sebelumnya. Umumnya mereka adalah anak-anak (laki-laki) terlantar yang kerap keleleran di stasiun KA.
Biasanya mereka turun dari KA angkutan barang yang membawanya dari arah Lampung. Tanpa tujuan yang pasti, rata-rata mereka datang dari Jawa menyeberang ke Lampung dan meneruskan perjalanan dengan KA ke arah Suimsel. Di daerah asalnya, mereka adalah anak-anak yang dari keluarga tak mampu.
Oleh si istri pegawai PNKA tersebut, anak-anak terlantar itu dimodali berjualan kueh-kueh basah, yang dibuat sendiri oleh Si Ibu. Ada pula yang dibikinkan kotak semir oleh salah seorang anak laki-laki keluarga itu yang masih duduk di bangku SMP. Ia pandai dalam membuat kerajian, bermusik, dan menggambar.
Dengan kotak semir bertali menggelantung di pundak, si anak terlantar tadi beredar di tempat-tempat umum. Mereka ke sana ke mari menawarkan jasa semir sepatu kepada orang-orang bersepatu yang mereka jumpai. Masih jelas membayang dalam benak saya, anak-anak terlantar itu keluyuran di area stasiun KA Prabumulih. Di pundak mereka, menggelantung kotak bertuliskan “Boot Polish, Semir Sepatu”.
Dari penghasilan berjualan kueh-kueh basah produksi Si Ibu atau dari hasil menyemir yang kemudian dikumpulkan pada si Ibu, anak-anak terlantar itu tiga bulan kemudian dipulangkan ke kampung halamannya. Begitu, kerap berlanjut hamper tiap-tiap tiga bulan sekali berikutnya.
