Angka-angka tersebut adalah angka rata-rata. Untuk mencari solusi yang minimal, begitu kata metodolgi. Apakah, dapat jauh lebih realistis senyatanya? setidaknya dapat mendekati kebenaran. Catatannya, kini sehari-hari masih ditemukan kenyataan lebih memrihatinkan.

Misalnya, nyata-nyata, Pemerintah masih harus bagi-bagi bantuan langsung tunai  (BLT). Di antara para penerima, masih terdaoat mereka yang senang menerima BLT ketimbang berusaha sendiri. Bila ditanya mengapa tidak bekerja, jawabannya, “Kami mau bekerja kalau memang tersedia lapangan kerja”.

Akan tetapi, ketika dipertanyakan lebih dalam apa yang mereka maksudkan dengan “tersedia lapangan kerja”, ternyata memang lebih senang menjadi “penerima upah”. Mereka bukan semacam  entrepreneur atau sosok pekerja mandiri.

Memilih mapang ada penghasilan tetapi setiap bulannya. Lebih memrihatinkan lagi, rupanya, mereka tidak berkemampuan meberdayakan keterampilan sendiri. Mereka unskill alias tak punya keterampilan yang bisa “dijual”. Tentang pendidikan, sebenarnya, cukup lumayan. Ada yang SMTP atau SMTA, tetapi juga di antaranya  yag sarjana.

Sampai di situ dunia pendidikan yang layak menjadi “tergugat”. Sudah seberapa jauh penyelenggara pendidikan mampu menjawab permintaan pasar? Dalam artian, bukan sekadar meluluskan siswa atau mahasiswa untuk memenuhi permintaan penyedia lapangan kerja, melainkan mencipta lapangan kerja, baik bagi diri sendiri maupun sesama. Suatu ketika di masa lalu, si otak moncer dari Indonesia, B.J. Habibie pernah berkata, “Sudah waktunya, dunia pendidikan Indonesia mampu menjawab permintaan pasar.”