Penggerak Ekonomi Kerakyatan  

Terlepas besar atau kecil jumlahnya, masih banyak atau tinggal sedikit, membaca angka rata-rata pendapatan warga, jelas ada langkah perata-rataan. Artinya, ada yang sesungguhnya miskin atau pas-pasan, ikut terbawa ke dalam hitungan rata-rata.

Bagi yang berpendapatan di atas rata-rata, tentu tak kan terganggu. Meski, media kerap memberitakan, “Mereka yang mampu, ternyata masih terdaftar sebagai penerima  BLT”. Rupanya, mereka bangga sebagai penerima bantuan, bila tidak mau dikatakan “kurang rasa malu” atau “mau cari gampang”. Padahal, itu berarti mengurangi jumlah sesama yang sesungguhnya lebih berhak ketimbang “golongan berpura-pura tak mampu”.  

Suatu ketika pernah terdengar, ada program Pemerintah tentang pemberdayaan ekonomi pesantren. Sengaja saya menuliskan pesantren sebagai contoh, dengan pemikiran bahwa seluruh warga negara Indonesia adalah umat beragama.

Maknanya, bisa pesantren dan bisa pula rumah ibadah (agama yang ada) sebagai pusat ibadah ritual bersama dan pusat kajian ekonomi (bukan tempat melakukan kegiatan ekonomi, seperti perdagangan). Selain juga, riil manusianya yang hidup bermasyarakat.