Kembali kepada Nabi besar Muhammad Rasulullah Saw yang carness terhadap pengemis Yahudi tua dan buta di awal tadi. Saya sangat yakin, tiada manusia yang tulus melebihi kebesaran jiwanya. Michael Hart dalam ”The 100” menempatkan Muhammad pada urutan teratas orang-orang besar di dunia.

Dengan paradigma kemanusiaan, saya ingin mengatakan, Nabi telah berbuat   atas dasar keikhlasan dan kebesaran jiwa. Terhadap seorang Yahudi, sekalipun. Sikap dan tindakan konkret, juga telah ditunjukkan dua keluarga sederhana di Kota Prabumulih (Sumsel) tadi. Keduanya, hanya contoh yang sangat mungkin dikembangkan lebih jauh di bumi Indonesia yang kaya ditebari orang-orang beragama berikut rumah-tumah ibadahnya.

Rumah-rumah ibadah, tentu saja, terutama merupakan tempat ibadah ritual bersama bagi penganutnya. Rumah ibadah, sangat mampu mengaduk-aduk emosi kaumnya untuk terlibat dalam jutaan kebaikan bagi sesama manusia. Indonesia yang merupakan negara terbesar berpenduduk Muslim, seperti siaran Kementerian Agama, per Mei 2022 memiliki total 290.161 masjid, tersebar di 34 provinsi (databoks.katadata.co.id. 17/05/2022, 09:00 WIB).

Jumlah rumah ibadah di Tanah Air, tentu akan bertambah lebih banyak lagi ketika menyebut umat beragama lainnya, seperti Nasarani, Hindu, Budha, Konghucu atau kepercayaan yang telah diakui keberadaannya oleh Pemerintah.

Rumah ibadah bukan cuma seonggok bangunan besar, resik nan indah. Selepas digunakan, lantas tutup kembali. Setiap ajaran agama yang dilantangkan dari mimbar terhormat rumah ibadah, selain sebagai ajakan pemujaan akan kebesaran Tuhan, patut pula diimplementasikan secara konkret dan benar dalam kehidupan sosial. Ini bentuk bersyukur yang impelementatif.