Presiden Prabowo begitu kental dalam nilai positif soal merawat kebersamaan, ia tidak akan meninggalkan orang-orang yang “telah berkeringat” memenangkan Prabowo di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024 kemarin.  

Saking, tidak melupakan kebaikan seseorang, wajar akhirnya Presiden Prabowo menerapkan pola “buang-punggut” terhadap orang-orang yang loyal terhadap dirinya. Contoh yang menyeruak di publik, seperti Hasan Nasbi yang sudah memilih mengundurkan diri sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), ternyata ia kembali dimasukkan ke Istana sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.

Sorotan yang sama, juga memungkinkan terjadi terhadap sosok Nanik S. Deyang yang memilih mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi memungkinkan ia akan ditempatkan sebagai pengawas BGN setelah mengundurkan diri dari jabatannya. Hal yang lumrah, “buang-punggut” di pemerintahan ini.

Baca Juga: Celah Korupsi dalam Program Prioritas Pemerintah

Meski kebersamaan ditonjolkan oleh Presiden Prabowo, tetapi yang menyembul dalam persepsi publik adalah pemerintahan ini tidak dibangun dengan dasar fondasi yang kokoh. Kesan yang hadir dalam pengelolaan pemerintahan juga bahwa kabinet bersifat tambal-sulam, buang-punggut, maupun geser-rangkap, ketiga sifat tersebut tidak terhindarkan.