Peninjauan DPRD Kota Cirebon pada Rabu menemukan dugaan telur puyuh diolah setengah matang di luar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga 05 sebelum dibawa kembali ke dapur untuk dipanaskan dan dimatangkan. Kepala SPPG Andi Rahmat mengakui proses awal di luar dapur itu, menyampaikan permohonan maaf, dan menyatakan yayasan siap menanggung biaya hingga anak-anak terdampak dinyatakan pulih. DPRD mengingatkan kapasitas produksi dapur yang mencapai 2.555 paket harus disesuaikan dengan kemampuan menjaga mutu, dan menegaskan belum ada bukti laboratorium yang memastikan telur puyuh sebagai sumber kontaminasi.

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalijaga 05 pada Selasa malam tanpa batas waktu yang ditentukan, mencopot kepala dapur dan ahli gizi yang bertugas, serta memastikan pemerintah menanggung biaya pengobatan korban. Dinas Pendidikan meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah terdampak pada Rabu, sementara sampel makanan serta muntahan dan feses pasien dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat untuk diperiksa.

Di tengah kepanikan, kabar seorang siswa TK Teratai meninggal dunia dipastikan tidak benar. DPRD menegaskan tidak ada korban jiwa yang tercatat di RSD Gunung Jati dan mengingatkan masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Sehari Berselang, 103 Siswa Cisarua Diduga Keracunan

Sehari setelah Cirebon, 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, diduga mengalami keracunan pada Rabu pagi setelah menyantap menu MBG dan meminum susu di sekolah. Gejala berupa mual, pusing, sakit perut, dan muntah mulai dirasakan sekitar pukul 08.00 WIB oleh siswa kelas VII dan VIII, yang kemudian dibawa bertahap dengan ambulans ke Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua. Angka korban sempat berubah selama pendataan, dari sekitar 80 menjadi 92, lalu 103 siswa menurut Bupati Bogor, dari total 881 siswa sekolah tersebut.