Menurut Samsia, pihak museum menerima kabar tentang paus yang terdampar ketika wilayah tersebut masih dikenal sebagai bagian dari Kecamatan Kulisusu. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti oleh Yasmin, petugas konservasi koleksi museum yang berasal dari Buton Utara.

Yasmin mengarahkan agar paus yang telah mati tersebut dimanfaatkan sebagai koleksi museum. Setelah dagingnya habis dan tulangnya terlihat, kerangka itu dibawa ke Kendari untuk diproses lebih lanjut.

“Yang menemukan tidak bisa kami sebut namanya, karena seluruh warga di sana terlibat menyaksikan paus terdampar itu,” ujar Samsia.

Setibanya di museum, tulang-tulang paus masih menyisakan lemak dan mengeluarkan bau bangkai. Tim laboratorium konservasi kemudian membersihkannya dengan cara memasak tulang berulang kali menggunakan bahan tertentu hingga lemak yang menempel terlepas.

Setelah proses pembersihan selesai, tim tersebut menyusun tulang-tulang menjadi kerangka utuh yang kini dipamerkan kepada pengunjung. Penanganannya dilakukan oleh petugas khusus untuk menjaga kondisi koleksi.