Samsia menegaskan kerangka yang dipajang merupakan tulang asli, bukan replika.
“Koleksi museum tidak ada yang palsu, karena semuanya punya cerita sejarah,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada awalnya terdapat dua ekor paus. Satu kerangka lainnya diambil oleh pihak yang dahulu mengelola Museum Wallacea di Universitas Halu Oleo (UHO). Namun, pihak Museum Negeri Sulawesi Tenggara tidak mengetahui keberadaan koleksi tersebut saat ini.
Perawatan menjadi bagian penting untuk mempertahankan kondisi kerangka yang telah berusia hampir tiga dekade tersebut. Menurut Samsia, petugas menggunakan bahan kimia untuk mencegah pertumbuhan jamur pada tulang.
Kerangka itu sengaja ditempatkan di ruang terbuka agar memperoleh paparan sinar matahari. Jika berada di ruang tertutup, sisa lemak pada tulang berpotensi memicu pertumbuhan jamur.
