Samsia mengatakan kerangka paus tersebut menjadi salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung museum. Pelajar SMP dan SMA termasuk kelompok yang paling sering datang untuk melihatnya.

Mahasiswa juga berkunjung, terutama ketika membutuhkan informasi untuk mengerjakan tugas perkuliahan.

Namun, dokumentasi dan arsip mengenai proses penemuan hingga pemindahan kerangka itu belum sepenuhnya tersedia di museum. Samsia mengatakan sebagian arsip masih disimpan oleh mantan kepala seksi yang telah pensiun dan belum diserahkan kepada pihak museum.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai proses penemuan dan pemindahan kerangka masih bergantung pada keterangan petugas yang mengetahui sejarah koleksi tersebut.

Kini, kerangka paus yang ditemukan di pesisir Buton Utara pada 1997 itu tetap dipamerkan di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Selain menjadi koleksi sejarah, keberadaannya memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal salah satu mamalia laut terbesar di dunia.