Ketika program kuratif menjadi primadona pembangunan kesehatan maka sebagian besar sumber daya dan sumber dana dialokasikan untuk memperkuatnya. Pemerintah makin gencar mendorong pembangunan rumah sakit, pengadaan obat, impor alat kesehatan, dan seterusnya. Sementara program promotif dan preventif, terutama untuk lingkup upaya kesehatan masyarakat (UKP) terkesan dikesampingkan atau dikebelakangkan.
Seolah-olah menunggu rakyat sakit baru diurus, dirawat dan diobati di rumah sakit. Bila sakitnya parah maka alat yang digunakan pun lebih canggih dan kemungkinan dirawat di ICU dengan waktu perawatan yang cukup lama. Artinya, biaya perawatan dan pengobatan pun bertambah. Karena itu, tidak salah bila ada sebagian orang berkata, “telah terjadi bisnis atas penderitaan dan kesakitan rakyat dan negara melakukan pembiaran atas kejadian tersebut.”
Mengutamakan Hulusasi
Meski dalam kampanye Pilpres 2024 terjadi demam “hilirisasi”, namun penulis berharap agar profesi dan tenaga kesehatan tidak ketularan demam hilirisasi. Sebab, bila profesi dan tenaga kesehatan ikut latah maka makin terbengkalailah program hulu dari kesehatan. Terabaikan pula program promotof preventif yang sasaran dan target yang lebih luas itu.
Pemerintah pun disibukkan dengan paradigma sakit. Mendirikan sebanyak mungkin rumah sakit dengan peralatan canggih, dan memperbanyak ICU. Semoga saja tidak ada yang berpikir untuk memperbanyak kamar jenazah, ruang pemulasaran jenazah, mobil jenazah, dan area pemakaman sebagai bisnis baru yang menjanjikan.
