Sumpah Hippokrates kemudian ditutup dengan kalimat, “Selama sumpah ini saya pandang suci dan selama sumpah ini tidak saya nodai, selama itu pulalah, mudah-mudahan saya akan mengecap kenikmatan hidup dan jabatan saya sepenuhnya seraya dihormati senantiasa oleh semua orang. Tetapi apabila sumpah ini saya nodai, maka kembalikanlah yang akan menjadi nasib saya.”
Lalu, bagaimana di Indonesia? Ternyata ajaran dan sumpah Hippokrates yang berisi tentang kemanusiaan diadopsi pula di Indonesia. Sumpah Dokter Indonesia misalnya, dimulai dengan, ”Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan” kemudian diakhiri dengan kalimat, “Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.”
Bukan hanya sumpah dokter yang menunjukkan perhatian utama kepada kemanusiaan, namun profesi kesehatan lain pun demikian. Lafal sumpah Dokter Gigi (butir-1), “Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan, terutama dalam bidang kesehatan.” Lafal sumpah Apoteker (butir-1), “Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan, terutama dalam bidang kesehatan.”
Lafal sumpah Perawat (butir-1), “Saya akan membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan tanpa membeda-bedakan kesukuan, kebangsaan, keagamaan, jenis kelamin, golongan, aliran politik, dan kedudukan sosial. Lafal sumpah Bidan (butir-1 dan 2), “Saya: Akan mengabdikan ilmu saya dengan jujur dan adil, sejalan dengan profesi kebidanan. Akan mengabdikan diri saya dalam pelayanan kebidanan dan kesehatan, tanpa membedakan agama, pangkat, suku dan bangsa.”
Lafal sumpah profesi kesehatan lain pun tidak jauh beda dengan sumpah kelima profesi di atas. Dan yang lebih menarik karena sebelum butir-butir sumpah diucapkan selalu diawali dengan kalimat persaksian kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Pencipta, “Demi Allah saya bersumpah/berjanji bahwa…”
