"Pada masa transisi perubahan itu, sistem pemerintahan di Buton tidak berubah drastis. Yang masih bertahan adalah pata limbona atau yang saat ini dikenal dengan MPR. Pata Limbona ini yang kemudian bertugas mengangkat dan memberhentikan sultan," jelasnya.

Selain sistem pemerintahannya yang tangguh, kesultanan Buton juga sangat berperan pada sektor ekonomi. Wilayahnya yang terletak di tengah Nusantara menjadikan Buton sebagai wilayah pertemuan antara timur dan barat nusantara.

Selain wilayah dan pemerintahannya itu, kesultanan Buton juga dikenal dengan wilayah penghasil emas. Saat ini, wilayah itu disebut dengan Kabupaten Bombana. Hal ini juga yang membuat pengaruh Melanesia kuat di Buton. Bahkan bangsa peru juga ada di Buton.

"Pertanyaan sekarang, apakah kedaulatan Buton itu sudah habis? Menurut saya tidak meski kedaulatannya sudah di serahkan ke NKRI. Sebab ada 18 orang BVO yang di pimpin oleh Sultan Hamid," jelasnya.

Lebih lanjut, kata dia, ke-18 perwakilan kesultanan ini adalah satu pihak tersendiri dalam konferensi meja bundar (KMB). Ke-18 perwakilan ini menyerahkan kedaulatan ini ke forum KMB bukan pada Belanda. Sebab tak ada kesultanan yang menyendiri karena terikat oleh rezional rizem.