Langkah ini diambil oleh PPP untuk mencoba peruntungan yang dinilai akan berdampak positif pada kenaikan raupan jumlah suara PPP di Pemilu Serentak nanti, anggapan ini terjadi melihat contoh nyata Nasdem yang dua kali meraih kenaikan suara dan peringkat karena mengusung Jokowi sebagai presiden lebih dulu.
Langkah PPP juga sekaligus menunjukkan PPP tidak lagi mempedulikan KIB. Keputusan PPP sudah final, terserah PAN dan Golkar akan mengikutinya atau malah memilih berseberangan dengan bergabung pada koalisi lainnya yang ada.
Secara riil kita dapat dinyatakan KIB sudah bubar, tetapi secara politik meski ketiga partai ini merasa KIB masih solid namun bagi penulis itu bukan lagi koalisi solid tetapi perkumpulan ketiga partai semata. Wacana Koalisi besar telah menyebabkan resistensi Golkar dengan PDIP.
Partai ini utamanya juga Airlangga Hartarto dirasa malu jika bersama PDIP. Saat wacana koalisi besar berhembus, Airlangga merasa jumawa, ia melihat kans dia besar menjadi cawapres mendamping Prabowo Subianto. Ia pun mencoba “mengusir” PDIP untuk gabung dalam Koalisi Besar dengan komunikasi berupa penolakan keikutsertaan PDIP apalagi jika PDIP minta jatah cawapres.
Airlangga merasa koalisi pendukung pemerintah dalam Koalisi Besar ini akan menyetujui dirinya mendampingi Prabowo, karena Golkar peringkat ketiga, dan juga Golkar merasa lebih punya pengalaman tinggi karena jam terbang juga partai ini telah lama berdiri di negeri ini.
