Apa yang terjadi di Sumatera saat ini, mengindikasikan kuatnya deforestasi di wilayah tersebut. Banjir bandang dengan material kayu gelondongan yang banyak menjadi bukti bahwa hutan telah menjadi korban mengatasnamakan pembangunan berkelanjutan yang hanya menguntungkan segelintir elit. Apa kabar pidato go green? katanya Indonesia surga dunia tapi faktanya mengorbankan paru-paru bumi sendiri.  

Tiap hari terus kita saksikan hutan dibakar, izin tambang dan sawit bebas di kawasan lindung. Dari Papua sampai Kalimantan hutan dibabat, sungai dikeringkan, dan flora-fauna punah demi sebuah proyek “kemajuan”. Tragisnya semua terjadi dengan tanda tangan resmi pejabat. Inikah yang disebut dengan “harga” sebuah kemajuan?

Kapitalisme Biang Keroknya  

Kapitalisme telah membawa dunia pada ambang kehancuran  ekologis. Kapitalisme mengubah cara manusia memandang alam secara fundamental. Alam diperlakukan bukan sebagai amanah yang harus dijaga, tetapi sebagai komoditas yang dapat di eksploitasi. Hutan dipandang sebagai lahan ekonomi, sungai sebagi aset profit, keanekaragaman hayati sebagai portofolio investasi,  bahkan karbon di atmosfer disulap menjadi barang dagangan.

Paham kapitalisme lah yang mengizinkan manusia berhak mengatur alam semaunya. Dalam kerangka seperti ini, hutan yang utuh dianggap tidak produktif jika belum tersentuh proyek. Akan bernilai ketika ditebang, ditanami komoditas, atau dijadikan lahan bisnis dengan arus manfaat yang menguntungkan kapital.