Baca Juga: Pengurus DPC Hanura Pertanyakan Pergantian Ketua DPRD Muna, Dua Wakil Ketua Beda Pandangan

Ia juga menuturkan, terakhir dirinya berkomunikasi dengan almarhum, yakni sebelum masuk rumah sakit. Waktu itu, Buya memintanya membeli buku 'Hamka & Islam: Reformasi Kosmopolitan di Dunia Melayu'.

Selain karena sejalan dengan isu dunia Melayu yang juga menjadi tema penelitian Saleh, Buya juga ingin agar Saleh bisa membumikan profil Hamka dalam politik dan kehidupan sosial.

"Itulah Buya. Tidak pernah lupa pada kami. Selalu tulus memberi nasehat. Dulu, waktu banyak orang pindah-pindah partai, dia bilang ke saya. Kamu jangan loncat-loncat. Sekali di PAN tetap harus di PAN. Kalau pindah-pindah, itu menandakan sikap pragmatisme yang tidak berujung," imbuhnya.

Ia menambahkan, sekarang Buya telah wafat. Banyak warisan yang ditinggalkan. Karya tulis banyak yang sudah ditorehkan. Banyak sudah orang yang mengkaji pemikirannya dalam bentuk skripsi, tesis, bahkan desertasi. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Ini menunjukkan pengakuan luar biasa dari dunia akademisi atas kontribusinya bagi Indonesia.