KOLAKA UTARA, TELISIK.ID - Ketua Tamalaki Patowonua, Mansiral Usman SH, merasa geram dengan sikap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) yang dinilai telah menganggap remeh etnis Tolaki yang berada di Kolut.

Hal tersebut katanya, terlihat dari sikap Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kolut yang hanya menjanji-janjikan pihak Tamalaki untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan instansi terkait persoalan tambang, namun tidak ditepati.

"Kami hanya dijanjikan untuk RDP, mulai dari kasus pemanggilan Syahbandar Kolaka sampai hasil peninjauan lokasi aktivitas pertambangan dan jetty yang merusak makam, sampai hari ini tidak pernah terpenuhi. Kalau begini sikap DPRD Kolut ini bisa memicu isu sara dan perang," kata Luis, Selasa (13/7/2021).

Giliran sekelompok mahasiswa yang meneriakkan tuntutan, hari ini mereka demo dua hari kemudian semua instansi dipanggil untuk RDP sementara kita suku Tolaki yang penduduk pribumi Kolaka Utara, meminta untuk RDP dengan semua instansi tidak ditanggapi, mereka menganggap seakan-akan kami ini tidak ada.

"Sekarang DPRD maunya apa? Kami mau perang juga siap. Kami kecewa sekali dengan sikap DPRD kemarin kita dijanji RDP dengan menghadirkan Syahbandar Kolaka tapi sudah berbulan-bulan belum juga disurati. Bahkan ketika turun ke lokasi kami dijanjikan hari Senin RDP tapi ketika siang tiba pihak sekretariat menyampaikan kalau Tamalaki tidak jadi diundang. Ada apa ini?," tanyanya heran.