Lalu pada 16 Maret 1988 berdirilah Taman Kanak-Kanan Alquran (TKA) di kampung Selokraman, Kotagede, Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya 23 April 1989 berdiri Taman Pendidikan Alquran (TPA). TKA ini untuk anak-anak yang berusia 4—6 tahun, sementara Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk anak-anak yang berusia 7—12 tahun.

“Pak As secara intensif mulai menulis. Pohon jambu yang ada di samping rumahnya, menjadi saksi bisu betapa sangat tekun dan sabarnya Pak As dalam mencari cara-cara efektif pengajaran membaca Alquran,” tulis Budiyanto, seperti dilansir dari kumparan.com.

Baca juga: Boyan Salt, Penemu Teknologi Pembersih Sampah di Lautan

Di bawah pohon jambu ia merakit inspirasi. Saat telah menemukan, ia tulis di kertas yang kemudian ia deretkan di pohon jambu itu. Pak As melakukan itu selama bertahun-tahun dengan kondisinya yang cacat fisik itu demi memudahkan umat muslim dapat membaca Alquran secara tartil.

“Saya sebagai kawan dan anaknya cuma menyediakan kertas dan peralatan tulis. [Jika kertas-kertas itu terbang], kami anak-anaknya, mengumpulkannya kembali. Ini dilakukan bapak selama bertahun-tahun,” ujar Erweesbe Maimanati, anak kedua As’ad, dilansir dari Tirto.id.