Semangat Pak As semakin membuncah. Gerakan itu semakin massif saat Team AMM menyelesaikan buku Iqra, suatu metode membaca Alquran yang mudah, cepat, dan praktis.

Selain menemukan metode Iqro, K.H. As’ad Humam juga berpandangan inklusif. Walaupun beliau aktif di lingkungan Muhammadiyah, tetapi ia selalu membuka diri kepada organisasi apapun. Menurutnya organisasi hanyalah wasilah (alat) untuk memperjuangkan islam.

K.H. As’ad Humam menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada bulan Ramadan, 2 Februari 1996 dalam usia 63 tahun. Jenazahnya disalatkan ribuan jamaah di Masjid Baiturahman Selokraman Kota Gede, Yogyakarta.

Kita semua dan orang-orang yang menggunakan metode Iqra untuk mampu membaca Alquran, tentu berutang budi padanya. Semoga menjadi amal jariah. Semangat, kegigihan, pantang menyerah, dedikasi tanpa henti, termasuk inkulisifitasnya, serta keterbukaan berpikirnya, mesti selalu hidup dalam diri muslim –kita semua.

Atas kegigihannya dan kiprahnya melalu Iqra, K.H. As'ad Humam mendapat berbagai penghargaan. Bahkan pada tahun 1991 menteri agama H Munawir Syadzali menobatkan TKA-TPA asuhan Kiai As'ad tersebut sebagai balai penelitian dan pengembangan Lembaga Pengajaran Tartil Quran (LPTQ) Nasional. (C)