Pria itu menjawab, “Karena masing-masing dari kami hanya mendapatkan satu potong kain untuk menutupi aurat kami, sedangkan engkau mengenakan pakaian lengkap!” Orang-orang yang hadir sejenak terdiam, seolah terkejut dengan kejujuran yang dilontarkan di hadapan Umar.

Namun Umar tidak terpancing amarah. Dengan tenang, ia berkata, “Tetaplah di tempatmu.” Kemudian ia memanggil putranya, Abdullah bin Umar. Abdullah datang dan menjelaskan kepada orang banyak bahwa ia telah memberikan bagian kain miliknya kepada ayahnya, sehingga Umar bisa mengenakan pakaian lengkap.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, para sahabat merasa puas. Orang yang tadi menginterupsi pidato Umar kini berubah sikap. Dengan penuh hormat dan khusyuk, ia berkata, “Sekarang, kami mendengar dan akan menaati, wahai Amirul Mukminin!” (Muhammad As-Shallabi, Umar bin Khattab Syakhsiyatuhu wa Ashruhu, [Suriah: Dar Ibni Katsir, 2009], halaman 109-110).

Dua peristiwa ini memperlihatkan keteladanan luar biasa dari Umar bin Khattab. Ia tidak hanya seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, tetapi juga seseorang yang terbuka terhadap kritik, bahkan di hadapan orang banyak. Umar menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan terletak pada kekuasaannya, melainkan pada kebijaksanaannya menerima masukan dan kritik dengan penuh kerendahan hati.

Baca Juga: Empat Cara Ampuh Tangkal Santet Sesuai Rujukan Islam