Lebih dari itu, Umar bin Khattab justru bersyukur dan berterima kasih jika ada yang berani menunjukkan kesalahannya. Sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Ghazali, Umar pernah berkata; Artinya: “Umar bin Khattab pernah berkata, 'Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahanku" (Ihya 'Ulumiddin, [Indonesia, Karya Thaha Putra: tt.], jilid III, halaman 62).
Sikap bijaksana juga ditunjukkan oleh Abu Bakar dalam merespons kritik dari masyarakat. Ia tidak hanya terbuka terhadap masukan, tetapi secara terbuka mendorong agar setiap keputusan dan tindakan yang diambilnya dikomentari dan dievaluasi. Hal ini tercermin dengan jelas dalam salah satu khutbahnya, dimana ia menyampaikan pesan penting tentang tanggung jawab kepemimpinannya:
Artinya: “Maka taatlah kepadaku selama saya taat kepada Allah SWT. Jika saya durhaka kepada-Nya dan rasul-Nya, maka jangan kalian taat kepada saya”. (As-Suyuthi, Jam’ul Jawami’, halaman 82).
Hal ini juga tercermin dalam pernyataan Sayyidina Abu Bakar yang dengan kerendahan hati menolak untuk melegitimasi dirinya sebagai yang terbaik di antara umatnya. Ia menegaskan bahwa kepemimpinannya bukanlah tanda superioritasnya, melainkan tanggung jawab yang diembannya dengan kesadaran penuh akan kekurangan diri. (C)
Penulis: Haerani Hambali
