Ia juga mengatakan, proyek tersebut tak hanya menghasilkan BBM, tapi juga produk petrokimia yang dibutuhkan berbagai sektor industri.

“GRR Tuban itu akan menjadi petrochemical industrial complex yang tidak sekedar mengolah crude yang sehari adalah 300 ribu barrel, dan itu akan menjadi terbesar ketiga di Indonesia setelah (Kilang) Cilacap,” tandasnya.

Senada dengan DPR, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menegaskan bahwa proyek kilang ini tetap dijalankan oleh PT Pertamina (Persero) bersama mitra asal Rusia, Rosneft.

Pernyataan itu disampaikannya setelah mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg.

“Kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Rosneft. Itu Tuban itu kan Rosneft. Rosneft sama Pertamina. Sampai dengan sekarang kita lagi melakukan evaluasi terhadap investasinya,” kata Bahlil dalam acara Jakarta Geopolitical Forum ke-9, Selasa (24/6/2025).