Akan tetapi, aku tahu pasti ia memang dekat dengan sejumlah nama jurnalis, termasuk Harun Muda Indrajaya (in). Waktu itu In sudah wartawan senior Harian Lampung Post. Tetapi, In juga kerap menulis untuk Harian Merdeka, Jakarta, khususnya berita-berita olahraga sepak bola dan tinju.
Sebagai jurnalis, event olahraga adalah juga bidang yang banyak kuliputi secara intens. Di samping, tentunya, bidang-bidang sosial lainnya, khusunya pertanian (padi dan kopi) yang waktu itu menjadi ikon Lampung.
Nan, adik kandung Adrian, adalah “layout man” dan korektor Harian “Lampung Post” di tahun 1970-1980-an. Aku sendiri koresponden Harian Berita Buana (1978-1981), yang kemudian pindah kerja menjadi wartawan LKBN Antara (1980-1986) Lampung, banyak tahu tentang Nan.
Di mataku, Nan punya kepekaan yang bagus sebagai jurnalis. Karena itu pula, aku selalu mendorongnya untuk berlatih menulis jurnalistik dan kirim-kirim tulisan ke koran di Jakarta. Suatu ketika, akhirnya tembus juga, tulisannya banyak dipublikasi oleh Mingguan Olahraga Tabloid Bola (Kompas Gramedia Grup). Ia sempat menjadi koresponden Harian Pelita, Jakarta. Pada era itu koran terbitan Jakarta masih disebut koran nasional, dan karena itu banyak yang bangga menjadi jurnalisnya.
Faktanya kemudian, baru kusadari memang lantaran aku dan Nan sama-sama jurnalis lah yang membuat aku banyak mengenal Yan. Aku dan Nan sering bermalam di rumahnya di Metro, bila kami ke ibu kota Kabupaten Lampung Tengah (waktu itu).
