Tak jelas, apa alasannya, Yan menaruh perhatian banyak terhadap keterampilanku dalam tulis-menuis jurnalistik. Kami sering terlibat percakapan semalam suntuk di rumahnya, yang tak jauh dari pasar Kota Metro. Ia merokok seperti “kereta api”, habis sebatang sambung lagi dengan batang rokok yang lain. Sampai pagi. Kerap kedapatan ia tak sadar bahwa aku sudah tertidur di sampingnya di kamar depannya yang juga merangkap sanggar Batik Lampung di Kota Metro. Waktu itu, putranya dua orang. Edo dan Ari nama kedua anaknya, seingatku.

Baca Juga: Belajar Cerdas dari Kasus Wadas

Begitu akrabnya kami, sampai-sampai di tahun 1982, Yan sempat dengan tangannya sendiri merancang batik dan membuatkannya kemeja lengan pendek untukku. Ya Batik Lampung. Tergurat di lembar batik litu “Batik Tulis, Batik Lampung, 9682”. Itu adalah guratan tangan almarhum langsung pada 9 Juni 1982.

Provinsi Lampung, yang semula hanya terdiri atas satu kota dan tiga kabupaten, kini telah bermekaran menjadi dua kota dan 13 kabupaten. Di kota dan kabupaten itu, bertebaran sangar-sanggar Batik Lampung.

Apalagi di Kota Bandar Lampung yang merupakan Ibu Kota Provinsi ujung selatan Pulau Sumatera ini. Galerinya bisa ditemukan di toko-toko atau pusat-pusat belanja. Juga, di pelabuhan atau di  Bandara Radin Inten, Natar, Lampung.