
“Di rumah saya itu almarhumah omande itu kan suka tanam-tanam cabe, sayur, jagung kayak gitu deh. Nah, di belakang rumah kan luas dipetik-petikin mama saya terus diikat. Dia bilang gini,‘Ani kan kamu tidak ada uang jajan ini ko pergimi jual ini sayur’. Ngajarinnya udah gitu mama saya,” kenangnya kala itu.
“Oh iya mah, brapa nih satu ikat? Kata omande 1000, kalo ada yang tawar 500 perak nggak apa-apa, atau naikin aja deh 1500, ntar kalo ada yang nawar baru turunin. Jadi yang dijual ada sayur terong dan lainnya,” ingat Apriyani saat bercerita.
Dari sekedar hobi, saat sekolah dasar Apriyani Rahayu terpilih mewakili sekolahnya dalam Porseni antar sekolah yang diselenggarakan di Kota Kendari saat itu. Ketika itu Ani mencapai babak final namun ia harus menelan kekalahan. Sehingga obsesinya untuk berangkat ke Jakarta harus kandas.
“Saat itu saya final sama teman saya juga, hanya beda pualu dia dari Raha saat itu. Saya kalah, nangis dong kan yang menang ke Jakarta,” ujarnya.
Karena Ani sudah menyatakan bahwa apa yang dia lakukan karena hobi dan senang dengan olahraga bulutangkis. Selain itu keluarga juga mendukung apa yang dikerjakan oleh wanita 22 tahun itu.
