“Alhamdulillah, rezeki dari jualan siomai ini cukup untuk makan, biaya sekolah anak, dan kebutuhan lainnya,” ucap Arip dengan senyum tulus saat ditemui di lapaknya, Selasa (16/9/2025) lalu.
Perjalanan Arip sebagai penjual siomai bukan tanpa rintangan. Ia memulai usaha ini karena ingin memberikan penghidupan lebih layak untuk keluarganya. Keputusan yang tak mudah, namun ia jalani dengan tekad kuat dan penuh keikhlasan.
Namun, bukan berarti hidupnya selalu manis seperti saus kacang yang menemani siomainya. Arip mengaku bahwa hari libur sering kali menjadi ujian tersendiri.
“Kalau hari libur, biasanya orang lebih banyak jalan-jalan ke luar kota. Pembeli jadi berkurang,” keluhnya.
Kondisi kesehatan juga kerap menjadi kendala. “Kalau saya sakit, otomatis tidak bisa jualan. Penghasilan pun langsung hilang hari itu,” tambahnya.
