Perjuangan hidupnya ternyata sudah ditempa sejak kuliah. Untuk membiayai kuliahnya, dia harus mencari tambahan dengan menjadi tukang ojek. Dia belajar hidup mandiri walaupun saat itu ia tinggal bersama orang tua.
Baca juga: Dua Hari Berturut-turut, Pasien COVID-19 di NTT Meninggal Dunia
Hal yang paling memilukan dalam hidupnya adalah ketika harus menerima kenyataan bahwa putra sulungnya lahir sebagai tuna wicara (bisu). Berbesar hati, ia menerima kenyataan itu dengan ikhlas.
Kini umurnya tak muda lagi, sudah menginjak 38 tahun. Di Hari Pendidikan tanggal 2 Mei ini, dirinya berharap pendidikan di Indonesia bisa lebih maju dan berkembang lagi agar anak-anak Indonesia bisa meraih cita-citanya.
Sejatinya, keinginannya yang paling mendalam adalah bantuan dan uluran tangan pemerintah terhadap nasib guru honorer.
