Reski terlihat dewasa di umurnya yang masih sangat muda. Ia mengorbankan waktu bermain bersama temannya demi membatu pamannya. Paman yang telah menjadi pengganti orang tua, yang membesarkan dan meberikan kasih sayang kepadanya.

Sempat terdiam, Reski berusaha tegar mengingat masa depannya. Ia mengaku tak mau bercita-cita seperti teman-temannya. Ia takut menentukan impiannya yang belum diketahui apakah bisa terwujud apa tidak.

"Tidak ada cita-citaku, tidak tau juga bisa terwujud atau tidak," tuturnya tersenyum ketir.

Rintangan yang ia hadapi membuatnya enggan bermimpi besar. Namun, harapannya tetap ada. Ia hanya ingin terus membantu paman yang telah menjaga dan merawatnya. Meski sederhana, tekadnya sangat mulia.

Pada perayaan HUT ke-78 RI, di sekitar tempat tinggalnya, banyak diadakan perlombaan. Reski mengaku ingin ikut meramaikan perayaan HUT RI itu, namun ia tidak bisa mengikuti itu karena harus menjajakan ikan bakarnya.