Hastitin tidak menerima bantuan dari pemerintah, yang membuatnya merasa semakin terisolasi dalam perjuangannya. Meski lelah dan nyaris putus asa, ia terus melangkah maju.
Setiap hari ia berjualan dengan mengenakan jilbab, topi, dan kaos tangan untuk melindungi tubuhnya dari panas matahari.
Meski kadang dagangannya tidak laku, ada saja orang yang memberinya nasi bungkus sebagai bentuk empati. Saat lelah dan tidak ada pengendara yang membeli, ia duduk sejenak di bawah lampu merah, mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjuangannya.
Ia berharap anaknya kelak bisa sukses dan tidak harus menjalani kehidupan yang penuh perjuangan seperti dirinya.
Seorang pembeli bernama Tiana, yang kebetulan membeli kerupuk dari Hastitin, mengaku terharu melihat kegigihan ibu tersebut.
